Posted by: djarotpurbadi | April 23, 2010

Pelopor Wirausaha dari Lereng Wilis

KOMPAS: Selasa, 23 Februari 2010 | 02:54 WIB

Oleh Runik Sri Astuti

Banyak orang berpikir, tinggal di daerah terpencil di lereng pegunungan dengan akses transportasi dan komunikasi yang terbatas mengurangi kreativitas dan mendorong perilaku berpikir yang statis. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Sulastri, perempuan dari Pegunungan Wilis di lereng Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Sulastri berhasil menunjukkan kepada dunia mengenai ide-idenya yang inovatif dalam gerakan penyadaran masyarakat di pelbagai bidang kehidupan. Ide-idenya bisa menggerakkan ekonomi rakyat demi mengangkat derajat kehidupan mereka. Padahal, dia tidak pernah mengenyam bangku kuliah.

”Kuncinya hanya belajar dan terus belajar. Tidak boleh malu sekalipun harus bertanya kepada yang lebih muda,” ujar Kepala Desa Joho itu. Dia berhasil mengentaskan warganya dari kantong kemiskinan.

Desa Joho yang terletak 1.000 meter di atas permukaan laut adalah daerah gersang dan tandus pada musim kemarau. Tanaman pangan dan hortikultura hanya tumbuh satu musim dalam setahun. Praktis, ekonomi pertanian yang menopang hajat hidup mayoritas penduduk tidak berjalan normal.

Hasil pertanian berupa jagung, ketela, dan kadang juga padi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan perut warga sehari-sehari. Adapun kebutuhan sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, terpaksa dikorbankan.

Seperti lazimnya desa tertinggal, angka kemiskinan tinggi, angka putus sekolah tinggi, derajat kesehatan rendah. Dari 3.242 jiwa penduduk desa, sepertiganya masuk dalam kategori penduduk sangat miskin.

Kondisi kaum perempuannya sangat menyedihkan. Mereka hanya berkutat di sumur, dapur, dan kasur. Kalaupun ada yang sedikit lebih maju, itu karena mereka menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri.

Pulang kampung

Kisah perjuangan Sulastri dimulai saat ia memutuskan pulang ke kampung orangtuanya di Desa Joho, tahun 2000. Dia lahir dan besar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, kampung para transmigran asal Jawa.

Saat itu, kondisi Sulastri tidak lebih baik dibandingkan sebagian besar perempuan di desanya, meskipun ia sempat mengenyam Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2 Kediri.

Setelah menikah dengan Mulyono dan dikaruniai seorang anak, ia menjadi ibu rumah tangga biasa. Apalagi, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Sulastri harus mengurus orangtuanya. Untuk menopang ekonomi keluarga, ia membuka toko kelontong di rumahnya. Suaminya hanya sopir angkutan.

Pada tahun 2003, sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri melakukan kuliah kerja nyata di desanya. Mereka meninggalkan ”pekerjaan” baru bagi Sulastri untuk meneruskan mengajar di Taman Pendidikan Al Quran rintisan mahasiswa.

”Kelihatannya sederhana, tetapi praktiknya tidak mudah. Jangankan mengajar, punya pengetahuan saja tidak,” katanya.

Melihat ironi kehidupan di depan matanya, Sulastri berinisiatif datang ke kampus dan meminta mahasiswa mengajari ibu-ibu menjadi tutor. Sejak saat itu, ia mulai menghimpun kaum perempuan di desanya berkumpul sekadar berbagi cerita dan informasi.

Cerita dari perempuan-perempuan desanya membuat hati Sulastri semakin trenyuh. Dia pun mendirikan Paguyuban Perempuan Sido Rukun hanya dengan berbekal niat dan semangat.

Demi memajukan paguyuban, ia nekat datang ke kampus dan meminta bantuan hewan ternak untuk dipelihara dengan harapan dapat menambah penghasilan masyarakat. ”Ketika itu kami diberi uang Rp 500.000 yang hanya cukup membeli dua ekor kambing kacang (atau kambing sayur, kambing berkualitas paling rendah),” ujarnya.

Induk kambing kemudian dipelihara bergantian. Anaknya diambil sebagai upah pemelihara. Jika anaknya lebih dari satu, anak yang lain dibagikan kepada keluarga yang membutuhkan.

Meskipun sukses dengan usaha kambingnya, Sulastri masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Itu karena ia masih melihat ibu-ibu itu tak punya kegiatan alias menganggur. Dia lalu mengajak mereka membuat usaha keripik buah pisang, talas, dan sukun. Sulastri sendiri yang memasarkannya ke Kota Kediri, sekitar 20 kilometer dari desanya.

Ide pembuatan keripik didasari murahnya harga hasil bumi. Setandan pisang raja nangka, misalnya, hanya Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Padahal, setelah diolah menjadi keripik, setandan pisang itu bisa menghasilkan Rp 60.000. Harga talas dan sukun malah lebih rendah lagi.

Koperasi

Paguyuban kemudian mendirikan Koperasi Simpan Pinjam Sido Makmur. Modalnya berasal dari iuran pokok anggota Rp 25.000 dan iuran wajib Rp 5.000 per bulan. Kini koperasi itu bisa meminjamkan Rp 2 juta kepada para anggotanya. Padahal, awalnya pinjaman maksimal cuma Rp 50.000.

”Sebelum ada koperasi, warga pinjam ke rentenir. Bayarnya setelah panen. Kalau gagal panen, utang menumpuk karena bunganya tinggi,” katanya.

Berkat pinjaman koperasi, masyarakat bisa membuka usaha baru atau mengembangkan usaha yang sudah berjalan. Kini, tercatat 30 usaha budidaya lebah madu berkembang di Joho.

Itu pun juga tidak lepas dari usaha Sulastri meminta bantuan Dinas Kehutanan Kabupaten Kediri memberikan penyuluhan tentang ternak madu dan modal awal dua kotak sarang lebah.

Yang tidak kalah penting, bangkitnya industri rumah tangga pembuatan ”kutang (beha) tradisional”. Sedikitnya ada tiga perajin dengan produksi ratusan buah beha per minggu.

Perempuan yang tengah hamil muda anak keduanya itu juga gencar mempromosikan produk usaha kecil dari desanya di setiap kesempatan, terutama ketika bertemu masyarakat dari luar.

Dalam tiga tahun terakhir, penduduk miskin di Desa Joho berkurang 359 keluarga. Kini hanya 600 rumah tangga. Hasil pendataan Badan Pusat Statistik, rumah tangga miskin yang berhak menerima beras miskin tahun 2010, tinggal 507 keluarga.

Kini Sulastri mulai bergerak ke sektor lain. Misalnya, mengembangkan kesenian musik tradisional dengan alat lesung dan alu, alat menumbuk padi pada zaman dahulu. Kesenian ini tampil pada acara-acara penyambutan tamu. Namun, tak jarang juga mereka diundang di perhelatan, seperti pameran kerajinan, acara wisuda sarjana, dan momen penting lainnya.

Sulastri terus bergerak. Dia berjanji akan mengawal pendidikan di desanya agar generasi muda yang lahir menjadi manusia yang lebih unggul dan andal, tidak hanya sekadar menjadi TKI. Dia juga berencana merintis kembali usaha pembuatan sirup berbahan tanaman rosela.

Dia seperti memberikan pencerahan bahwa bicara saja tidak cukup. Bukti dengan kerja keras lebih dibutuhkan negeri ini.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/23/02544892/pelopor.wirausaha.dari.lereng.wilis

Posted by: djarotpurbadi | April 23, 2010

Riezka, Jual Pisang Ijo Raup Omzet Ratusan Juta

KOMPAS: Sabtu, 23 Januari 2010 | 15:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kini selera makan masyarakat Indonesia makin beragam. Tidak melulu makanan londo cepat saji yang sekarang kian merebak, penikmat kuliner juga mulai melirik makanan tradisional Nusantara. Salah satunya adalah pisang ijo asal Makassar, Sulawesi Selatan.

Menu makanan dengan bahan dasar pisang berbalut tepung berwarna hijau ini sukses dipasarkan Riezka Rahmatiana. Perempuan muda berusia 24 tahun ini sanggup meraup omzet mencapai Rp 850 juta dari hasil jualan pisang ijo dengan merek dagang JustMine.

Padahal, saat memulai usaha pada 2007, dia hanya merogoh koceknya Rp 2 juta. Modal tersebut kemudian habis dibelanjakannya untuk membuat etalase kecil serta bahan-bahan pembuat pisang ijo.

“Waktu buka usaha ini modalnya kecil. Hanya Rp 2 juta,” ujarnya saat ditemui di sela-sela Expo Wirausaha Mandiri di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (23/1/2010).

Riezka berkisah, kesuksesan diraihnya dengan penuh kerja keras. Awalnya, dia pernah menjadi anggota  multilevel marketing (MLM). Karena tidak membuahkan hasil, Riezka beralih menjajal bisnis voucer pulsa yang akhirnya kandas juga.

Tak patah arang, Riezka akhirnya banting setir dan mulai menggeluti usaha di bidang kuliner. Saat itu, dia merintis sebuah kafe di Bandung. Namun, lagi-lagi usahanya gagal.

Akhirnya, pada tahun 2007 Riezka mulai melirik pisang dan berpikir untuk mengemasnya menjadi panganan yang digemari orang. “Saat itu saya hanya berpikir, pisang itu kalau laku dijual enaknya dibikin apa. Akhirnya saya memutuskan untuk memasarkan pisang ijo,” katanya.

Yang unik, Riezka yang asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, ini mengaku belum pernah sekali pun menyambangi Makassar. Kunci keberhasilan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikai Universitas Padjadjaran ini sebenarnya terletak pada kreativitasnya mengembangkan makanan pisang ijo dalam berbagai aneka rasa. Dari pisang ijo tradisional dikembangkan dengan campuran vla yang ditambahkan dengan berbagai rasa, vanila, cokelat, keju, hingga durian.

Bandingkan dengan pisang ijo makassar yang hanya berbungkus terigu berwarna hijau pandan plus lamuran vla ditambah sirup sebagai pemanis. Ada juga yang dilumuri bubur sumsum dan es batu.

Harga pisang ijo JustMine dipasarkan Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per porsi. Semangkuk pisang ijo ini menjadi makanan yang digemari banyak orang. Buktinya, saat Expo Wirausaha Mandiri hari ini, ratusan pengunjung tidak henti-hentinya menyerbu stan pisang ijo ini. Bahkan, dalam hitungan jam, stok pisang ijo milik Riezka ludes.

“Ini makanya telepon lagi minta dikirim ke sini. Pengunjungnya sudah antre dari pagi,” ujarnya.

Untuk mengembangkan usahanya itu, Riezka membuka peluang untuk berinvestasi bagi siapa saja yang berminat dengan sistem waralaba pisang ijo. Hingga kini, ada 20 gerai pewaralaba pisang ijo yang tersebar di Bandung, Jakarta, dan Bekasi. Di samping itu, Riezka juga punya tiga outlet di Bandung.

Untuk menjamin keuntungan bersama dengan para mitra, proses seleksi mitra waralaba pisang ijo cukup cermat. Riezka menjelaskan, untuk menjadi mitra pisang ijo JustMine, cukup dengan investasi mulai dari Rp 6,5 juta.

Nantinya, para mitra akan mendapatkan satu booth, paket perlengkapan booth lengkap, paket promosi, jaminan kualitas produk, biaya delivery, trainning karyawan, dan hak pakai booth.

Siapa berminat?

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/23/15472594/riezka.jual.pisang.ijo.raup.omzet.ratusan.juta

Posted by: djarotpurbadi | June 15, 2009

Sarjiyo MM yang Bisa Bikin Biogas

KOMPAS: Senin, 15 Juni 2009 | 03:54 WIB

Agnes Rita Sulistyawaty

Secara formal, Sarjiyo hanya tamat SMP. Namun, dengan percaya diri dia mengenakan gelar MM. Bila berbicara tentang siklus energi dengan dia, tampak ketepatan gelar MM itu. Sarjiyo murah memberi kata-kata untuk menjelaskan rantai makanan dan perputaran energi di kosmos. Maka, gelar MM mempunyai akronim gurauan buatannya, Sarjiyo men mingkem (biar diam).

SARJIYO

SARJIYO

Dengan satu tarikan napas, Sarjiyo men-jembreng-kan teori rantai makanan yang mudah diterima akal. Bila lawan bicaranya berasal dari Jawa, kosakata berbahasa Jawa bertebaran di sana-sini. Baginya, kesadaran tentang rantai makanan dan siklus energi inilah yang menjadi pemacu utama masyarakat membuat biogas.

Pria asal Kulon Progo, Yogyakarta, ini dikenal sebagai pembuat instalasi biogas. Sejak tahun 2004 dia berkenalan dengan teori instalasi biogas dan bereksperimen membuat bangunan serta sistem yang bisa mengolah aneka limbah organik menjadi dua produk sekaligus, biogas dan kompos. Instalasi biogas pertama sekaligus laboratorium uji coba buat biogas ada di pekarangan rumahnya di Kulon Progo.

Butuh setahun bagi Sarjiyo untuk mendapatkan desain dan ukuran instalasi biogas yang pas. Dia juga menghitung jumlah kotoran ternak atau theletong. Dari catatannya, seekor sapi menghasilkan minimal 10-15 kilogram kotoran basah per hari.

Theletong itu lantas dimasukkan ke dalam ruang fermentasi biogas. Untuk kebutuhan satu-dua keluarga, ruang kedap udara yang dibutuhkan berukuran sekitar 30 meter kubik. Instalasi itu cukup untuk mengolah kotoran yang dihasilkan dua ekor sapi. Hasil fermentasi kotoran dua ekor sapi setara dengan 0,5 liter minyak tanah dan bisa mencukupi kebutuhan bahan bakar memasak satu keluarga.

Demi penghematan lahan, Sarjiyo membangun instalasi biogas di bawah tanah yang ditutup beton. Di atas beton penutup dimanfaatkan sebagai kandang sapi. Hasilnya, sejumlah warga di Kota Yogyakarta bisa memelihara dua ekor sapi di kandang yang terbatas, bersih, sekaligus memproduksi biogas untuk memasak.

”Konstruksi instalasi saya buat dengan beton karena lebih awet dibandingkan fiber dan plastik. Kalau plastik hanya tahan beberapa tahun, beton bisa puluhan tahun. Selain itu, di atas instalasi plastik tak bisa digunakan untuk kandang dan perawatannya juga sulit,” katanya.

Sementara itu, dengan beton, tambah Sarjiyo, theletong tinggal dimasukkan ke dalam lubang menuju tabung instalasi, lalu biarkan bakteri anaerob yang akan membantu fermentasi.

Gas yang dihasilkan dari fermentasi kotoran sapi ini lantas disalurkan ke dapur untuk dijadikan bahan bakar di kompor. Sarjiyo juga mendesain sendiri kompor berbahan bakar biogas. Kompor ini merupakan modifikasi dari kompor gas biasa.

Ada pula tabel angka yang menunjukkan simpanan gas saat itu. Bila penunjuk menyentuh angka 5, simpanan gas maksimal. Kalau penunjuk sudah merosot sampai ke angka 1, pemakai harus menunggu beberapa saat sebelum memakai kompor lagi.

Kalau tak ada sapi, biogas masih bisa dihasilkan dari aneka jenis kotoran ternak, ampas produksi tahu, kulit kacang, atau limbah organik lain. Semua itu bisa dicemplungkan ke tabung fermentasi sebagai produsen gas metana.

Butuh satu tahun bagi Sarjiyo untuk mendapatkan konstruksi bangunan biogas yang sempurna. Biaya uji coba membuat satu instalasi biogas untuk mengolah kotoran dari dua ekor sapi itu sekitar Rp 4,7 juta.

Setiap kali ada kelemahan, konstruksi biogas langsung diperbaiki. Sekarang, harga pembuatan instalasi itu Rp 9 juta-Rp 10 juta karena kenaikan harga material.

Berawal dari pertanian

Kisah biogas Sarjiyo berawal dari pertanian. Ketika itu, dia mengikuti pelatihan pertanian organik dan biogas yang diadakan salah satu LSM di Yogyakarta. Ada beberapa kawannya yang juga ikut pelatihan itu. Kata Sarjiyo, apa yang dia lakukan hanyalah melanjutkan teori ke praktik langsung.

Persoalan biogas dipahami Sarjiyo sebagai bagian dari pertanian organik. Biogas dihasilkan dari kotoran ternak atau limbah pertanian. Setelah proses fermentasi, tak hanya biogas yang diperoleh, tetapi juga kompos padat dan cair. Kompos yang tak berbau ini bisa digunakan di sawah untuk menyuburkan pertanian.

Setelah hasil pertanian dipanen manusia, limbahnya digunakan untuk pakan ternak. Ternak membantu kerja petani di sawah. Dari ternak itu juga, theletong diproduksi.

”Theletong itu bisa menjadi biogas lagi,” ucap Sarjiyo menjelaskan kesatuan rantai makan-dimakan serta alur energi terbarukan sekaligus sebuah pertanian terpadu.

”Pelaku biogas itu orangnya sendiri, jadi tergantung mau rajin atau tidak. Kalau rajin, ya kompos dibawa ke sawah, sawah pun subur. Kandang juga bersih karena kotoran disapu ke lubang instalasi biogas. Ini menjadi aspek sosialnya,” ucapnya.

Oleh karena itu, Sarjiyo rajin berkeliling untuk menyebarkan pengetahuan tentang keseimbangan rantai makan-dimakan, pertanian terpadu, hingga biogas dan nol sampah. Petani juga bisa menghemat pengeluaran karena tak perlu lagi membeli bahan bakar untuk memasak.

Inilah yang disebut Sarjiyo dengan fakta, sesuatu yang bisa dilihat manfaatnya secara kasatmata.

Fakta juga yang membuat dia tak peduli dengan ejekan sejumlah kawan ketika Sarjiyo baru mulai membangun instalasi. Ejekan itu dilontarkan karena perhitungan instalasi biogas ala Sarjiyo tak sesuai dengan teori di buku. Teori dalam buku itu belum menjadi fakta. Ia percaya dengan hitungannya sendiri.

Buktinya, setelah instalasi biogas terbangun, kerja instalasi ini jauh lebih maksimal dan awet dibandingkan instalasi bikinan orang lain. Di beberapa tempat, Sarjiyo bahkan membangun satu instalasi baru bersisian dengan instalasi biogas buatan salah satu perguruan tinggi.

Setelah berhasil, Sarjiyo semakin gencar membawa biogas ke pelbagai kalangan. Tak hanya petani, tetapi juga berbagai kelompok masyarakat yang tertarik membangun instalasi biogas ala Sarjiyo.

Di Kulon Progo, Sarjiyo dibantu 80-an orang berusia 18-40 tahun yang tergabung dalam Sanggar Solidaritas Petani Lestari. Mereka juga yang membantu Sarjiyo mengerjakan instalasi biogas di berbagai tempat.

Sejak tahun 2004, ada 400 instalasi biogas yang dibuat Sarjiyo. Itu pun baru di wilayah Provinsi DI Yogyakarta. Kalau ditambahkan instalasi dari berbagai daerah di Indonesia, jumlahnya bisa ribuan.

”Karena biogas, saya bisa jalan-jalan ke berbagai tempat, dari Sabang sampai Merauke. Tentunya sembari membahas biogas,” ucapnya.

Jadilah Sarjiyo berkeliling Nusantara ”memasarkan” biogas, instalasi buatannya, dan pertanian terpadu. Begitulah asal mula dia secara bergurau memberi gelar MM bagi dirinya sendiri.

”Sarjiyo MM alias men mingkem, biar diam. Ini karena saya terlalu sering jualan kata-kata (tentang biogas dan pertanian terpadu) ha-ha-ha,” ujar pria penyuka humor ini.

Data Diri

• Nama: Sarjiyo

• Lahir: Kulon Progo, DI Yogyakarta, 3 Desember 1966

• Pendidikan:

- SD Karangwuni, Wates

- SMP Trimurti, Temon, Kulon Progo

- Jurusan Peternakan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Veteran, Wates (tak lulus)

• Istri: Ida

Posted by: djarotpurbadi | April 21, 2009

Bukhari, Mengembangkan Batik Bakaran

KOMPAS: Selasa, 21 April 2009 | 03:42 WIB

HENDRIYO WIDI

Pada tahun 1975, batik bakaran nyaris hilang dari peredaran pasar tradisional. Pasalnya, Sutarsih yang berusia 86 tahun, satu-satunya generasi keempat pembatik bakaran, tak mampu lagi membatik. Namun, Bukhari, putra ke-12 Sutarsih, yang mewarisi kemampuan membatik, berusaha keras menjadikan batik bakaran kembali ”bermasa depan”. Bukhari Wiryo Satmoko, nama lengkap pria yang lahir di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ini tidak sekadar mengembalikan batik bakaran di peredaran pasar tradisional, tetapi sampai ke pasar nasional dan internasional.

Dia memang akrab dengan batik. Sejak masih duduk di kelas III Sekolah Rakyat, Bukhari kerap dianggap suka ngrusuhi atau mengganggu ibunya yang sedang membatik.

Saat sang ibu beristirahat, Bukhari kecil mengambil canting dan melanjutkan motif batik di kain yang dikerjakan ibunya. Bukannya menjadi rangkaian batik yang indah, motif-motif karya Bukhari itu tidak berbentuk dan malam batiknya mblobor.

Kejadian itu terus berulang hingga sang ibu sering marah. Namun, dari waktu ke waktu sang ibu pun bisa melihat bahwa hasil lanjutan motif Bukhari semakin baik. Bahkan, Bukhari kerap menelurkan motif lain yang berbeda dengan pakem batik bakaran.

”Saya mulai jarang membatik bersama Ibu setelah duduk di Sekolah Teknik Juwana. Soalnya, lebih asyik mengutak-atik mesin ketimbang canting he-he,” kenangnya.

Kondisi itu berjalan hingga Bukhari duduk di STM 2 Semarang. Namun, baru dua bulan di sekolah itu, dia harus pulang ke rumah dan tak lagi melanjutkan sekolah. Ia harus menjaga ibunya yang sakit keras karena seorang kakak Bukhari meninggal tertimpa paku bumi.

Sang ibu tak memperkenankan Bukhari melanjutkan sekolah teknik karena takut kejadian serupa menimpa putra bungsunya itu. Peristiwa itulah yang kembali mendekatkan Bukhari dengan cinta pertamanya, batik.

Mengajari istri

Tahun 1975 ia menikah dengan Tini. Untuk menghidupi keluarga, Bukhari mengerjakan tambak. Ia mengajari istrinya membatik dan berharap Tini tak sekadar menjadi ibu rumah tangga, tetapi turut menopang ekonomi rumah tangga.

Pada tahun-tahun itu pula Desa Bakaran Wetan krisis generasi pembatik bakaran. Sejak sakit, ibunda Bukhari tak lagi membatik. Bukhari memanfaatkan situasi ”genting” itu dengan mengembangkan batik bersama istrinya.

”Semula saya memproduksi dua kain batik per bulan dan menjualnya di pasar tradisional. Waktu itu harganya masih murah, Rp 3.000-Rp 8.000 per lembar,” ujar Bukhari, generasi kelima pembatik bakaran.

Menurut dia, meski tak selaris saat Juwana menjadi pelabuhan besar pada zaman para kakek-buyut, masyarakat tetap meminati batik bakaran. Bahkan, sejumlah orang yang mengira batik bakaran sudah tak lagi diproduksi mengaku kaget bisa menemukannya.

”Mereka mendatangi rumah saya untuk memesan batik. Dari waktu ke waktu pesanan bertambah sehingga batik bakaran tenar kembali,” katanya.

Agar batik bakaran lebih dikenal luas, Bukhari memberi merek batiknya ”Tjokro”. Ia mengambil nama kakeknya, Turiman Tjokro Satmoko. Alasannya, pada era Tjokro, batik bakaran menjadi komoditas perdagangan di Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para pejabat Kawedanan Juwana.

Tenaga kerja

Lonjakan permintaan pasar pada era 1980-an itu menyebabkan Bukhari menambah tenaga kerja dari dua orang menjadi 20 pembatik. Tenaga pembatik itu berasal dari para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya.

Menurut Bukhari, para ibu rumah tangga itu tak mempunyai pekerjaan tetap ketika ditinggal suaminya melaut, bertani, atau mburuh di kota-kota lain. Dengan membatik, mereka dapat menambah penghasilan keluarga Rp 15.000-Rp 30.000 per hari.

”Sebagian kecil di antara mereka sudah bisa membatik, sedangkan yang lain harus diajari lebih dulu,” kata penerima penghargaan Byasana Bhakti Upapradana dari Gubernur Jateng pada 1994 ini.

Pada tahun 1998 Bukhari terpaksa menutup usaha batik dan memberhentikan para pekerjanya. Industri rumah tangga batik yang dia kembangkan mulai dari nol itu terkena imbas krisis moneter.

Alasannya, saat itu harga bahan baku batik meningkat berlipat-lipat sehingga harga batik menjadi sangat tinggi. Hal Ini mengakibatkan batik bakaran tak laku, sepi pembeli.

”Usaha itu saya tutup selama dua tahun. Baru pada tahun ketiga saya mulai memproduksi batik lagi dalam skala kecil dibantu istri dan seorang pembatik,” katanya.

Tahun 2006 Bukhari mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Pati untuk melestarikan dan meningkatkan pemasaran batik bakaran. Pemkab Pati menerima usulan itu dengan menggalakkan program pemakaian batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) pada hari-hari tertentu.

Program itu meningkatkan pemasaran batik bakaran di daerah Pati sekaligus juga di luar Pati. Melalui promosi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati dan gethok tular para pembeli, batik bakaran kembali bangkit.

Bukhari bisa mempunyai tenaga kerja harian dan borongan sebanyak 52 orang. Mereka mampu memproduksi 400-600 lembar batik bakaran per bulan. Tak mengherankan jika omzet Bukhari mencapai Rp 40 juta–Rp 60 juta per bulan. Pemasaran batik produknya tak hanya di Pati, tetapi sampai ke Surabaya, Bandung, Jakarta, Rembang, Blora, Semarang, serta Kanada dan Amerika Serikat.

Melestarikan legenda

Sukses Bukhari melestarikan batik bakaran dan meningkatkan perekonomian warga sekitar berdampak pula pada kelestarian legenda tentang batik bakaran. Melalui legenda itu, tradisi manganan atau makan bersama terus berkembang dan menjadi salah satu sarana menjalin keguyuban warga.

Bukhari memaparkan, sejarah batik bakaran terkait erat dengan kisah Nyi Danowati atau Nyai Ageng Siti Sabirah, penjaga pusaka dan pengurus seragam Kerajaan Majapahit akhir abad ke-14. Ia datang ke Desa Bakaran untuk mencari tempat persembunyian karena dikejar-kejar prajurit Kerajaan Demak.

Dalam penyamarannya di Desa Bakaran, Nyi Danowati membuat langgar tanpa mihrab yang disebut Sigit, dan sampai kini menjadi pepunden, tempat warga menggelar tradisi manganan. Di halaman Sigit itulah Bukhari mengajar membatik kepada warga sekitar.

Menurut dia, motif batik Nyi Danowati yang masih berkembang hingga kini adalah motif sekar jagad, gandrung, padas gempal, magel ati, dan limaran. Motif-motif itu mirip dengan motif batik dari Jawa Timur.

Dahulu, pewarna batik motif itu menggunakan bahan-bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat, kayu tegoran untuk warna kuning, dan akar kudu sebagai pewarna sawo matang.

”Sayangnya, bahan-bahan itu sudah sulit didapat,” kata Bukhari.

Selain motif-motif bakaran kuno, Bukhari juga mengembangkan motif kontemporer berdasarkan kekhasan daerah dan tren yang dilihatnya berkembang di masyarakat. Misalnya, motif gelombang cinta, juwana, begisar, kembang rowo, peksi papua, pohon druju, dan jambu alas.

(Sumber: Kompas cetak, online)

Posted by: djarotpurbadi | April 15, 2009

Rubai, Eksportir Gula Merah

KOMPAS: Rabu, 15 April 2009 | 03:02 WIB

Oleh Runik Sri Astuti

0519345pJika Anda berkunjung ke Jepang dan mencicipi berbagai makanan olahan berbahan gula merah, seperti sirup, kecap, atau kue-kue basah, jangan mengira itu asli Jepang. Sebab, bahan gula merahnya itu ada yang berasal dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Sudah 14 tahun Achmad Rubai (70) menjadi duta gula merah tradisional Indonesia ke Jepang. Dia menjadi produsen sekaligus eksportir tunggal untuk produk gula merah.

Selama belasan tahun menekuni bisnisnya, Rubai tidak pernah absen melakukan pengiriman karena produknya telah mendapat tempat tersendiri di hati bangsa Jepang, mengalahkan produk sejenis buatan China, Vietnam, Thailand, India, dan Bolivia.

Sedikitnya 300 ton atau sekitar 15 peti kemas ukuran 20 kaki gula merah memasok pasar di Jepang setiap tahun. Dengan harga gula merah saat ini yang mencapai Rp 5.000 per kilogram, omzet Rubai mencapai lebih dari Rp 15 miliar per tahun.

Permintaan gula merah produksi Rubai terus meningkat walaupun kondisi pasar global tengah lesu. Itu karena produknya telah dikenal berkualitas bagus. Kadar gulanya mencapai 87 persen dengan kadar air hanya 5 persen.

Kelebihan inilah yang sulit ditandingi para kompetitor dari negara lain. Kualitas produk yang dihasilkan pesaing jauh di bawah produk Indonesia, tetapi mereka memiliki kelebihan yang tidak bisa dipandang remeh, yakni penawaran harga yang jauh lebih murah.

Gula merah buatan China dan Vietnam, misalnya, selisih harganya bisa mencapai sekitar 30 persen. Itu karena biaya produksi di kedua negara tersebut jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia.

”Inilah yang menjadi masalah bagi eksportir di Indonesia pada umumnya. Kami sering kalah kalau bersaing soal harga karena biaya produksi terlalu tinggi, apalagi saat harga bahan bakar minyak naik seperti tahun 2008,” ujarnya.

Regenerasi

Selama bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis ekspor gula merah, Rubai nyaris tidak memiliki pesaing di negeri sendiri, baik dari Jatim maupun dari kota-kota lain di Indonesia.

Padahal, di tempat ia tinggal di Desa Slumbung, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, saja ada lebih dari 400 pengusaha gula merah tradisional ataupun modern.

Sayangnya, mereka masih berkutat di pasar lokal dan pasar nasional, belum sampai menembus pasar ekspor. Padahal, pangsa pasar gula merah di dalam negeri porsinya sangat terbatas.

Rubai sebenarnya sering berbagi pengetahuan dan ilmu kepada pengusaha gula merah di sekitarnya, terutama generasi muda, tentang cara memproduksi gula yang berkualitas agar mampu bersaing di pasar mancanegara.

Namun, hingga sekarang belum ada satu pun ”muridnya” yang berhasil. Bukan berarti Rubai merupakan ”guru” yang tidak baik karena gagal mendidik muridnya. ”Kebanyakan mereka menyerah di tengah jalan sebelum pelajaran selesai. Bahkan, untuk mengajari anak-anak saya sendiri saja susah sekali,” ujarnya.

Prestasi yang diraih Rubai memang bukan hasil kerja instan. Sukses yang dicapainya adalah buah kerja keras, ketekunan, keuletan, dan kesabaran selama bertahun-tahun. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kegagalan bertubi-tubi pernah ia alami. Namun, kakek 10 cucu ini tidak patah arang. Sebaliknya, kegagalan ia jadikan sebagai guru yang paling baik dalam hidupnya.

Rubai sendiri tak pernah mengenyam pendidikan formal hingga ke jenjang pendidikan menengah, apalagi perguruan tinggi. Ia hanya lulusan sekolah rakyat.

Pengetahuan dan keterampilan membuat gula merah pun diperoleh secara otodidak. Sejak kecil ia suka membantu ayahnya membuat gula merah. Dia baru membangun usaha pembuatan gula merah sendiri pada 1976.

Proses produksi

Gula merah buatan Rubai diproses secara sederhana. Tanaman tebu yang telah matang atau berumur sekitar 14 bulan dikepras dari akarnya dan dibersihkan dari daun-daun kering. Proses ini dilakukan di ladang.

Tebu kemudian dibawa ke pabrik pengolahan di belakang rumah Rubai, lalu digiling menggunakan mesin untuk mengeluarkan air gulanya.

Untuk menghasilkan kadar gula yang maksimal, yakni 87 persen, ia mendesain sendiri mesin penggilingan tebu. Namun, Rubai enggan menjelaskan detail desain mesin tersebut. Pembuatan mesin ini termasuk salah satu materi yang ia pelajari saat berada di Jepang.

Sebelum memiliki mesin penggilingan tebu dan pada saat Rubai masih memproduksi gula merah untuk pasar lokal, ia menggunakan alat pemeras tradisional yang digerakkan oleh tenaga sapi untuk mendapatkan sari tebu. Cara ini masih dipakai para pembuat gula merah lokal di Kabupaten Kediri sampai sekarang.

Air tebu dengan kadar gula yang tinggi itu selanjutnya dimasak di tungku sampai air gula mengental dan berwarna coklat kemerah-merahan. Selama proses pemasakan di tungku, gula harus terus-menerus diaduk secara manual menggunakan tenaga manusia agar matang merata dan tidak gosong. Untuk memasak gula, Rubai menggunakan bahan bakar daun tebu yang telah kering.

Setelah masak, gula merah dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi empat dengan ukuran sekitar 20 cm x 30 cm dan dibiarkan dingin. Setelah dingin gula merah dibungkus untuk dipasarkan.

Tidak ada bahan campuran lain yang ditambahkan Rubai ke dalam gula merah produksinya. ”Kami tidak memakai pewarna ataupun bahan pengawet karena itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Justru dengan menjaga kemurnian kualitas gula, gula merah produksi kami bisa tahan selama setahun,” ujarnya.

Karena tidak memakai pewarna itu pula gula merah yang diproduksi Rubai tidak berwarna merah seperti gula merah yang dijual di pasar tradisional di dalam negeri. Gula buatan Rubai justru berwarna coklat kemerah-merahan (semu merah).

Pendidik

Membuat gula merah sebenarnya bukanlah cita-cita tunggal Rubai. Sebelum terjun sebagai perajin, ia lebih dulu menekuni profesi sebagai pengajar di madrasah diniyah dan madrasah ibtidaiyah yang dikelola oleh Yayasan Mujahidin.

Suatu hari pada awal tahun 1994, seorang pengusaha Jepang yang sering membeli kayu dari Surabaya bertamu ke rumahnya. Pengusaha itu mendapat informasi tentang Rubai karena namanya telah dikenal sebagai pembuat gula merah terbaik di Jatim.

”Sebelum memesan gula merah untuk dibawa ke negerinya, orang Jepang itu tinggal di rumah kami selama 25 hari untuk melihat langsung proses mulai dari pemilihan tebu sampai pengolahan menjadi gula merah,” katanya.

Setelah itu, giliran Rubai yang pergi ke Jepang untuk menimba ilmu bagaimana cara membuat gula merah yang berkualitas dan bersih. Ia berada di Jepang selama satu minggu.

Sepulang dari Jepang Rubai langsung mempraktikkan ilmunya. Namun, hasilnya masih kurang memuaskan. Setelah bertahun-tahun melakukan perbaikan, barulah produknya dinyatakan benar-benar layak ekspor.

Dalam usianya yang tidak muda lagi, Rubai berharap industri gula merah tradisional yang merupakan industri kerajinan rakyat turun-temurun berkembang lebih baik dan tidak punah karena perubahan peradaban.

Posted by: djarotpurbadi | April 2, 2009

Tine, Melestarikan Budaya dengan Miniatur

KOMPAS: Senin, 30 Maret 2009 | 04:39 WIB

LIS DHANIATI

3262758pTampak dari luar, rumah di Jalan Sekeloa Selatan II, Dipati Ukur, Kota Bandung, itu tak berbeda dengan bangunan di sekitarnya. Rumah itu berada di antara kepadatan daerah yang menjadi lokasi beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Harapan Bangsa, dan Universitas Komputer Indonesia. Bedanya, di depan rumah itu ada papan nama bertulisan Museum Miniatur Kebudayaan.

Apa itu ”museum miniatur kebudayaan”? Rupanya, sebagian ruangan di rumah tersebut difungsikan untuk memajang miniatur berbagai alat musik dan permainan tradisional Sunda.

”Sebenarnya saya risi menggunakan kata museum. Sebab, dari segi penampilan, masih jauh dari layak untuk museum. Bahkan, akses jalan menuju tempat ini juga kurang mendukung,” kata Tine Mulyatini, pemilik rumah itu.

Namun, dia sengaja menulis ”museum” karena selama ini Tine merasa prihatin pada kondisi kebudayaan tradisional Sunda yang makin tergerus dan jauh dari perhatian orang. Ia berharap kata ”museum” bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk peduli kepada kebudayaan Sunda.

Pengunjung bisa melihat berbagai bentuk miniatur dari benda yang bisa mengingatkan orang pada kebudayaan Sunda. Di sini dipajang antara lain berbagai bentuk alat musik tradisional Sunda, seperti angklung, calung, dan gamelan. Adapun koleksi miniatur permainan tradisional Sunda yang bisa dilihat antara lain kolecer (kincir angin), bandring (katapel), dan totoroktokan. Belakangan ini sebagian besar alat permainan anak-anak itu sudah jarang terdengar, apalagi digunakan.

Selain miniatur alat musik tradisional Sunda dan permainan khasnya, pengunjung juga bisa menikmati miniatur rumah tradisional Sunda. Tak hanya bentuk rumahnya, tetapi juga berbagai alat memasak tradisional seperti hawu (tungku).

Bahkan, untuk membuat orang bisa membayangkan apa saja yang ”berbau” tradisional Sunda, Tine melengkapi isi museumnya dengan miniatur berbagai makanan khas Sunda, semisal aliagrem (penganan terbuat dari tepung beras dan gula merah yang digoreng).

Semua miniatur yang dipajang di Museum Miniatur Kebudayaan ini dilengkapi keterangan singkat mengenai sejarah dan kegunaan masing-masing.

”Kami menanggung biaya operasional museum ini secara mandiri,” kata Tine. Dia sekaligus menjadi kepala museumnya.

Untuk urusan Museum Miniatur Kebudayaan, Tine bertugas mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan fungsi manajerial. Akan halnya teknis produksi untuk membuat berbagai bentuk miniatur benda-benda khas Sunda, itu dikerjakan oleh dua adiknya, Dadang Surahman (32) dan Ari Irawan (27).

Permainan anak-anak

Keberadaan museum ini memang baru dirintis empat-lima tahun lalu sehingga relatif belum banyak orang yang tahu keberadaannya. Untuk itulah, pada Februari 2009, misalnya, Tine berusaha ”memperkenalkan museumnya” dengan menggelar pentas permainan anak-anak.

Pada acara itu ditampilkan berbagai permainan yang dikenal Tine semasa kanak-kanak, seperti oray-orayan, perepet jengkol, paciwit-ciwit lutung, dan ucang-ucang angge.

”Kami bekerja sama dengan rekan-rekan seniman untuk mengajak anak-anak mengenal permainan tradisional Sunda yang nyaris terlupakan,” kata Tine.

Selain demi mempertahankan permainan tradisional khas Sunda, sebenarnya lewat berbagai permainan tradisional itu anak-anak bisa belajar atau ”diajari” manfaatnya.

”Permainan tradisional itu tak sekadar mengajak anak-anak bermain, tetapi mereka sekaligus belajar bagaimana harus bekerja sama dalam satu tim, atau bagaimana mereka mesti kreatif,” katanya.

Contohnya perepet jengkol. Ini permainan yang melibatkan sedikitnya empat orang anak. Satu kaki mereka berkait-kaitan. Mereka harus bisa berjalan berputar-putar sambil menyanyi.

Museum ini sebenarnya berawal dari bisnis. Tine yang semula bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan tekstil di Bandung hanya ingin menambah penghasilan dengan berbisnis.

Ide awal mendirikan usaha kerajinan muncul setelah dia melihat kemampuan kedua adiknya, Dadang dan Ari, yang suka dan pandai mengukir. ”Mereka belajar mengukir dan membuat berbagai kerajinan secara otodidak. Sambil melatih kemampuan, sesekali Dadang dan Ari menerima pesanan pembuatan produk kerajinan. Saya pikir, mengapa kami tak membuat sendiri produk kerajinan itu?” ceritanya.

Ia dan kedua adiknya lalu mendirikan usaha kerajinan berbendera CV Waditra Indojaya. Dalam bahasa Sunda, waditra berarti alat musik. ”Semula motivasi saya hanya bisnis, tetapi kami lalu terpanggil untuk ikut melestarikan kebudayaan Sunda dengan kemampuan yang ada,” katanya.

Alat-alat musik

Tine memilih membuat miniatur alat musik tradisional Sunda. Pada awalnya mereka hanya memproduksi miniatur alat musik dalam bentuk satuan, misalnya degung atau gong saja. Mereka memanfaatkan pameran sebagai salah satu media pemasaran.

”Saat pameran, kami sering mendapat pertanyaan dari pengunjung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kerajinan yang kami jual, misalnya tentang fungsi dan arti namanya,” katanya.

Pertanyaan para pengunjung pameran itu sepele, tetapi Tine ternyata kesulitan memberikan jawaban yang memuaskan. Dia merasa tertantang untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pengunjung.

”Kami berusaha mencari referensi, baik melalui buku, internet, maupun bertanya kepada para seniman,” katanya. Pengetahuan itu lalu dituangkan dalam bentuk keterangan singkat yang dilampirkan pada setiap kemasan produknya.

Tantangan lain datang ketika masuk pesanan seperangkat alat musik tradisional Sunda, lengkap dengan panggungnya. Lagi-lagi, dia harus berburu referensi untuk memenuhi pesanan itu.

”Kami jadi tahu lebih banyak tentang jenis-jenis alat musik Sunda berikut fungsinya,” ujar Tine yang pada 2005 memecahkan rekor Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia) dalam pembuatan miniatur gamelan terkecil. ”Pembuatannya rumit. Kami harus menggunakan kaca pembesar dan pinset,” tambahnya.

Selain alat musik, Waditra kemudian memproduksi kerajinan lain, seperti gelang dan kalung. Pada produk ini pun ciri tradisional Sunda tetap dipertahankan. Misalnya, kalung dilengkapi liontin berbentuk topeng Sunda atau lempeng tipis dengan ukiran huruf kaganga (aksara kuno Sunda).

Dari sisi bisnis, usaha cenderamata ini relatif lancar. Namun, motivasi idealis tumbuh setelah melewati berbagai tantangan usaha. ”Untuk membuat benda dalam ukuran asli, pasti dibutuhkan banyak biaya. Dengan miniatur, orang bisa memiliki dan mengetahuinya dengan harga relatif terjangkau,” kata Tine tentang pemilihan miniatur sebagai produknya.

Meski pesanan relatif tak pernah sepi, Tine merasa belum puas. ”Saya ingin Waditra menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Jawa Barat. Di sini orang bisa melihat miniatur benda-benda kebudayaan Sunda. Pengunjung juga bisa belajar membuatnya lewat workshop,” kata Tine.

Data Diri

• Nama: Tine Mulyatini
• Lahir: Bandung, 10 Oktober 1970
• Pendidikan: D-1 Sekretaris
• Suami: Ahmad Kustiana
• Anak: – Jodi Anggadiputra (15) – Marion Tiffani Putri (7)
• Penghargaan: Rekor Muri untuk gamelan terkecil, 2005

Posted by: djarotpurbadi | April 2, 2009

Menoreh Jadi Pusat Petualangan Alam

KOMPAS: Senin, 2 Maret 2009 | 17:54 WIB

Wates, Kompas – Sejumlah pusat kegiatan wisata petualangan alam akan dibuka di Kecamatan Kokap, Kulon Progo, tahun ini. Lokasi kegiatan berada di puncak-puncak Perbukitan Menoreh yang memiliki jalan menanjak dan dinding lereng curam.

Sampai saat ini sudah dua lokasi yang dipersiapkan oleh pemerintah Kecamatan Kokap sebagai lokasi kegiatan wisata petualangan alam, yakni di Gunung Ijo, Dusun Sungapan I, Desa Hargotirto, dan di Dusun Kalibiru, Desa Hargowilis. Namun, baru Dusun Kalibiru yang sudah mengalami penataan kawasan wisata dengan memakai dana Community Development (CD) dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta.

“Kami juga berencana mengajukan dana CD untuk membangun kawasan pariwisata Gunung Ijo. Akan tetapi, kami berusaha untuk menyelesaikan dulu desain tata kawasan,” kata Camat Kokap Santoso, Sabtu (28/2), di Dusun Sungapan I.

Sejumlah fasilitas yang akan disediakan di pusat wisata alam itu, lanjut Santoso, antara lain jalur pendakian dan hiking, fasilitas permainan outbound, seperti flying fox, halang rintang, dan jembatan gantung, hingga ke fasilitas peristirahatan, seperti bungalo dan gardu pandang. Namun, prasarana utama yang harus dibangun adalah jalan masuk menuju kawasan perbukitan yang kondisinya rusak.

Dengan dibangunnya pusat-pusat kegiatan wisata alam, maka warga perbukitan bisa mendapat penghasilan tambahan sebagai pemandu wisata atau penjaja makanan. Dengan begitu diharapkan perekonomian warga perlahan-lahan naik dan bisa mengentaskan kemiskinan yang telah menjadi masalah klasik.

Wakil Bupati Kulon Progo Mulyono, beberapa waktu lalu, mendukung upaya pemerintah tingkat kecamatan dan desa dalam mempromosikan daerahnya sebagai tujuan wisata alternatif atau minat khusus. (YOP)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/02/17542729/menoreh.jadi.pusat.petualangan.alam

Posted by: djarotpurbadi | April 2, 2009

Edy dan Briket Kulit Kacang

KOMPAS: Kamis, 2 April 2009 | 03:28 WIB

Eny Prihtiyani

3264945pSehari-hari Edy Gunarto bergelut dengan kulit kacang. Kulit kacang itu dia masukkan ke dalam sebuah drum besar lalu dibakarnya selama sekitar dua jam. Agar cepat dingin, arang kulit kacang itu kemudian dijemur. Setelah dihancurkan hingga menyerupai tepung, adonan itu diaduk dengan lem kanji. Proses terakhir adalah mencetaknya menjadi briket siap pakai.

Warga Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, ini menggeluti usaha itu setidaknya sejak lima tahun terakhir. Briket produksinya itu sudah dipasarkan ke berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta. Sebagian besar pelanggannya adalah kalangan industri rumah tangga.

Gagasan membuat briket kulit kacang muncul ketika Edy menghadapi banyaknya sampah kulit kacang di daerahnya. Sampah itu dibiarkan berserakan di pinggir jalan atau dibuang begitu saja di kebun-kebun. Di rumahnya sendiri, sampah kulit kacang juga tidak kalah banyaknya. Apalagi istrinya adalah pengepul kacang tanah.

”Bila panen tiba, banyak petani yang menjual kacang kepada istri saya. Setelah dikupas, oleh istri saya lalu dijual kepada pedagang pasar tradisional, terutama di Beringharjo. Jadi, sampah kulit kacang di rumah selalu menumpuk,” katanya.

Sampah kulit kacang itu makin menumpuk ketika Edy berhasil membuat alat pengupas kacang dengan kapasitas 2 kuintal per hari. Alat itu terus dia sempurnakan hingga kapasitasnya mencapai 1,5 ton per hari. Alat itu dibuatnya setelah mengamati alat perontok padi karena prinsip kerjanya hampir sama.

”Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak. Tidak hanya dari petani di Bantul, tetapi juga dari wilayah Gunung Kidul dan Kulon Progo. Itu membuat usaha istri saya berkembang pesat. Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami,” ujarnya.

Awalnya Edy hanya menjual sampah kulit kacang itu kepada para perajin tahu seharga Rp 30.000-Rp 35.000 per truk. Oleh perajin, kulit kacang dipakai sebagai bahan bakar mengolah tahu.

Setelah mendapat informasi dari berbagai sumber, seperti buku dan pelatihan tentang pembuatan briket, dia pun tertarik membuat briket kulit kacang. ”Saat itu yang diperkenalkan adalah pembuatan briket dari serbuk gergaji. Namun, karena bahan bakunya di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja,” cerita Edy.

Eksperimen

Selama masa eksperimen, Edy masih mencampur kulit kacang dengan serbuk gergaji. Dia khawatir, kalau semua bahan bakunya dari kulit kacang, briketnya tidak bisa sempurna. Lambat laun dia mulai meninggalkan serbuk gergaji dan hanya menggunakan kulit kacang.

Keuletan dan ketelatenan Edy melakukan eksperimen membawanya pada satu kesimpulan, yakni briket bisa dibuat dari semua jenis limbah organik. Selain kulit kacang, briket juga bisa dibuat dari bahan baku seperti cangkang jarak, tempurung kelapa, dan tongkol jagung.

Sekarang, bila stok kulit kacang tengah menipis, Edy beralih pada bahan baku yang lain. ”Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya beralih ke tongkol jagung,” katanya.

Dalam sehari Edy bisa memproduksi sekitar 70 kilogram briket. Setiap 1 kg briket membutuhkan sekitar 2 kg kulit kacang. Jadi, dalam sehari kebutuhan bahan bakunya mencapai 180 kg kulit kacang.

Selain memanfaatkan sampah kulit kacang milik sendiri, Edy juga membeli dari petani seharga Rp 50 per kg. Briket kemudian dia jual Rp 2.500 per kg. Edy menjualnya dalam bentuk kemasan 2 kg.

”Produksinya memang belum terlalu tinggi, padahal permintaannya cukup banyak. Salah satu kendalanya adalah peralatan yang kami gunakan sebagian besar masih tradisional. Kalau saja ada investor yang tertarik, mungkin usaha ini bisa dikembangkan lebih maksimal mengingat potensi sampah organik di sini sangat besar,” ujar Edy.

Sederhana

Semua peralatan yang dipakai Edy memang tergolong sederhana. Ia memodifikasi semuanya sendiri. Latar belakang pendidikan teknik mesin semasa belajar di STM 2 Jetis Bantul ternyata cukup membantu.

Misalnya, untuk mesin pengaduk molen briket, dia membuat sendiri dengan meniru prinsip kerja mesin buatan pabrik. Untuk membuat alat itu, ia menghabiskan sekitar Rp 2 juta, sementara jika membeli di pabrik bisa sampai Rp 5 juta. Untuk mencetak briket, Edy juga memanfaatkan alat cetakan genteng yang sudah dia modifikasi.

Untuk memanfaatkan briket, konsumen tinggal membeli tungku yang terbuat dari tanah liat seharga sekitar Rp 10.000. ”Sebelumnya memang belum ada perajin gerabah yang membuat tungku untuk briket. Ketika itu yang ada tungku dari besi seharga Rp 150.000. Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya,” kata Edy.

Untuk menyalakan briket di tungku gerabah tidaklah susah. Caranya, briket ditaruh di lubang di atas tungku lalu dinyalakan dari atas. Menyalakannya pun tidak sesulit briket batu bara. Untuk menyalakan api, orang bisa menggunakan bantuan secuil kain atau kertas.

Keuletan Edy dalam mengembangkan usahanya ternyata mendapat respons positif. November tahun lalu dia berhasil menggondol juara pertama tingkat nasional kategori pengembangan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Citi Peka.

Penghargaan itu membuat Edy semakin bersemangat. Atas prestasinya tersebut, dia mendapat hadiah Rp 11 juta. Rencananya uang itu akan dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha.

Dia yakin, usahanya akan semakin berkembang mengingat ketersediaan minyak tanah bersubsidi semakin langka. Di wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman, misalnya, minyak tanah bersubsidi sudah ditarik, sedangkan di kawasan Bantul kemungkinan hanya sampai Desember mendatang.

”Tanpa subsidi, harga minyak tanah bisa Rp 8.000 per liter. Jadi mungkin akan semakin banyak masyarakat yang beralih pada bahan bakar alternatif,” kata Edy.

Menurut dia, briket buatannya mirip dengan briket batu bara. Setiap 1 kg briket bisa menghasilkan panas hingga sekitar dua jam.

Menggunakan briket untuk bahan bakar memasak juga terhitung lebih irit dibandingkan dengan memakai minyak tanah. Untuk keperluan memasak nasi, sayur, dan lauk, jika menggunakan kompor minyak tanah bisa menghabiskan sekitar satu liter minyak yang harganya sekitar Rp 8.000 (harga nonsubsidi). Jika memakai briket, hanya mengeluarkan uang Rp 2.500.

Selain lebih irit, briket kulit kacang juga tidak menimbulkan asap dan jelaga sehingga tidak mengotori dinding dan peralatan memasak, kata Edy.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/02/03281585/edy.dan.briket.kulit.kacang

Posted by: djarotpurbadi | March 6, 2009

Buaran Motor di Jakarta

Saudara saudaraku semua yang dicintai Allah,bergeraklah untuk wirausaha dan tinggalkan sifat mriyayi kita…. saya sendiri juga dodolan di jakarta…..

sama dengan mas agus heri , bapak ibu saya alhamdulillah menyekolahkan saya sampe lulus teknik perminyakan, karena pengen banget bahagiakan bapak ibu saya. Tetapi jiwa wirausaha saya berontak akhirnya banting setir ke usaha dodolan ini…

saya sekarang di jakarta jualan mobil bekas/baru ( BUARAN MOTOR) sekalian promosi nih …. he. he kalo ada yg cari mobil hub saya. karyawan saya rata-rata saudara-saudara kita dikulonprogo yg lulus dari stm. sampe detik ini alhamdullillah dengan usaha dodolan ini bisa hidup dan cukup. jadi kenapa kita harus takut untuk berwirausaha tinggalkan sifat ewuh pekewuh and mriyayi di hati kita.

ayo majukan daerah kita jangan nrimo aja, kuatkan dan rapatkan kekeluargaan kita lewat milis ini… mudah-mudah an kulonprogo bisa tumbuh wirausahawan/ wati yang sukses amin.

noery soefihadi (noery_sfbm@yahoo.com)


Posted by: djarotpurbadi | March 6, 2009

Taylor dan Modiste MUTIA

Sisan Iklan ya…….!
Setiap insan pasti memerlukan busana baik pria, wanita maupun anak2. Anda bisa pesan baju, model apapun dilayani…. …! Datang aja ke t4ku di barat koramil Temon 100 meter (TAILOR & MODISTE “MUTIA”)

Asih Handayani (

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.